Mengenal Suku yang Ada di Manado

Kota Manado terletak di wilayah administrasi Sulawesi utara, dan juga sebagai ibu kota provinsi. Dengan suku Minahasa sebagai suku terbesar, kota Manado memiliki slogan yang cukup unik yaitu Si Tou Timou Tumou Tou. Ini adalah slogan kehidupan orang Minahasa yang berarti ‘manusia memanusiakan orang lain’. Kota Manado juga merupakan kota terbesar kedua setelah Makassar. Mayoritas tanah di Manado adalah gunung dan perbukitan di tengahnya. Ketinggiannya mencapai 610 di atas permukaan laut, namun di wilayah kota rata-rata tingginya 250 mdpl. Lahan rendah sebagian besar berbentuk pantai di pinggirnya. Beberapa sungai juga melintasi kota Manado, seperti Tikala, Tondano, Malalayang, dan sungai lainnya, yang berakhir di teluk Manado. Dengan besarnya wilayah Manado maka persebaran suku yang ada di Manado juga sangat luas.

Suku Minahasa yang Terbesar di Antara Suku yang Ada di Manado

Karena merupakan suku terbesar yang ada di Manado seringkali orang mengidentikkan Minahasa dengan Manado, walaupun masih ada suku yang lainnya seperti Suku Sangir, Suku Mongondow, Suku Gorontalo dan beberapa suku lainnya. Suku Minahasa masih dibagi lagi menjadi beberapa sub-suku dengan dialek bahasa yang berbeda. Seperti sub suku Tonsea yang tinggal di wilayah utara, Tombulu tinggal di barat laut danau Tondanau, Totemboan yang tinggal di selatan barat dan selatan Danau Tondanau, Tourlour yang terletak di timur danau Tondanau, Tonsawang atau Tonsini yang tinggal di bagian tengah dan tersebar di pantai utara, kelompok dialek terakhir ini memiliki kesamaan dengan dialek pulau Sangir Talaud dan daerah Bolaang Mongondow, di luar wilayah Minahasa.

Orang Minahasa juga seperti kelompok etnis Indonesia lainnya, tinggal dalam kelompok dengan unit pemukiman terkecil yang disebut desa yang dikepalai oleh Hukum Tua (Kumtua). Kepala Kecamatan yang secara tradisional disebut Hukum Kedua (Kumarua) sebagai pengganti organisasi tradisional Minahasa asli yang disebut Hukum Besar sebelum kemerdekaan. Terminologi “Wanua” atau “Banua” selama kerajaan Majapahit digunakan untuk merujuk aspek fisik pemukiman, karena ukuran pemukiman menjadi besar, namun tidak memiliki hubungan dengan administrasi modern atau organisasi tradisional.

Tradisi pertanian di Minahasa bersifat permanen hanya beberapa lahan, yang kekurangan air dan sukar diolah, dibiarkan setelah menghasilkan, namun jenis tanah ini sekarang telah digunakan untuk menanam tanaman berumur panjang seperti kakao dan cengkeh. Beberapa keluarga memiliki peternakan ukuran kecil yang bisa dibudidayakan sendiri, namun beberapa memiliki lahan pertanian besar yang bekerja sama dengan petani yang disebut “mapalus”/mempekerjakan pekerja. Cara lain adalah memberi lahan kepada petani lain dan berbagi hasil panen. Dalam hal ini pemilik usaha tani disebut tinoyo, dan pembudidayanya adalah tinoyoan. Dalam kehidupannya Suku Minahasa juga sering bergantung dengan suku yang ada di Manado lainnya.

Leave a Reply

css.php
Skip to toolbar