Inilah Kebenaran Dari Hukum Asuransi Dalam Islam

Hukum Asuransi Dalam Islam memang kita harus mendalaminya. Dalam ajaran agama islam, segala sesuatu hal yang berkaitan dengan ibadah serta muammalah telah diatur sedemikian rupa. Berlandaskan dengan firman firman Allah SWT yang diturunkan melalui kitab Alquran serta landasan dari hadist hadist Rasul Allah Muhammad SAW. Asuransi yang termasuk ke dalam bidang bermuammalah juga memiliki batasan batasannya agar sesuai dengan syariat islam.

Batasan batasan dalam asuransi tersebut berdasarkan seluruh dalil yang ada serta berdasarkan fatwa atau keputusan keputusan ulama yang mengkaji dan disepakati. Batasan batasan tersebut berkaitan erat dengan Hukum Asuransi Dalam Islam yang benar. Tentu, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam ingin mengetahui mengenai batasan batasan ini. Sehingga dengan demikian umat islam di Indonesia dapat menghindari hal hal yang dilarang dikerjakan dalam ajaran agama islam.

Banyak hal yang membatasi investasi asuransi ini agar menjadi investasi yang halal untuk dikerjakan. Salah satu dari sekian banyak hal tersebut adalah mengenai masalah premi yang dibayarkan nasabah, dan bagaimana perusahaan bersama dengan nasabah dapat membuat kesepakatan agar kedua belah pihak saling diuntungkan atas akad yang disepakati.

Batasan mengenai premi agar sesuai dengan syariat islam adalah, premi tersebut berdasarkan kesepakatan antara pihak nasabah dengan perusahaan. Premi tersebut dibayarkan atas kesukarelaan atau ridho tanpa adanya unsur paksaan. Premi yang telah dibayarkan oleh para nasabah tersebut seharusnya tetap menjadi hak sepenuhnya bagi para nasabah. Ketika suatu saat nasabah membutuhkan dana investasi tersebut, dana tersebut dapat diklaim dan diberikan oleh pihak perusahaan.

Selain itu, investasi asuransi agar sesuai dengan syariat islam maka premi yang dibayarkan oleh para nasabah hanya berniatkan tolong menolong antar nasabah. Tolong menolong disini maksudnya adalah ketika satu nasabah membayarkan premi, maka pihak perusahaan mewadahi dan beramanah membawa premi tersebut bersama dengan premi premi dari seluruh nasabah yang ada. Lalu selanjutnya ketika salah seorang dari nasabah sangat membutuhkan dana investasi asuransi tersebut. Pihak perusahaan dapat membantu nasabahnya tersebut sesuai yang dibutuhkan dan berdasarkan kesepakatan dari nasabah nasabah lainnya.

Lalu selanjutnya, dana yang keluar masuk adalah dana bersih tanpa adanya potongan ataupun bunga. Kalau begitu, bagaimana perusahaan mendapatkan keuntungan atau dana untuk menjalankan sistem manajemennya? Berdasarkan fatwa dari para ulama menyatakan bahwa sebuah perusahaan asuransi dapat mengambil dana tersebut dari sistem bagi hasil yang ditetapkan diawal dengan nasabah yang akan memulai investasi. Jadi dalam hal ini tidak aka nada yang merasa dirugikan saat melakukan investasi, terutama investasi asuransi.

Dengan menerapkan batasan batasan syariat islam yang telah ditetapkan, maka sebuah perusahaan asuransi ataupun nasabah nasabahnya akan mendapatkan keuntungan secara merata tanpa ada yang merasa dirugikan. Kedua belah pihak pun akan saling menebar kebermanfaatan untuk sesamanya. Dengan inilah maka Hukum Asuransi Dalam Islam akan menjadi halal untuk dikerjakan oleh umat islam yang ada di Indonesia.

Informasi lain dapat anda konsultasikan dengan agen asuransi syariah yang mampu menjelaskan secara gamblang tentang konsep asuransi syariah.

Leave a Reply

css.php
Skip to toolbar